Brimob dan Wartawan Gelar Pelatihan Bersama Dalam Rangka Peliputan Unjuk Rasa

Korbrimob Polri menggelar simulasi pelatihan bersama dengan media massa dalam rangka peliputan unjuk rasa yang juga dihadiri oleh Pengurus KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) dan Ketua Amnesty Internasional Indonesia Usman Hamid di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Sabtu (26/10/19).

Sebanyak 29 wartawan dari berbagai media mengikuti pelatihan ini. Simulasi ini diselenggarakan guna memberikan pengetahuan kepada para wartawan agar mengetahui titik aman untuk peliputan saat situasi kerusuhan ditengah unjuk rasa.

Kegiatan ini diawali dengan sarapan bersama para wartawan dan mendengarkan sambutan dari Divisi Humas Polri. Selanjutnya diisi dengan sambutan dari Danpas Pelopor Korbrimob Polri Brigjen Pol. Drs. Verdianto Iskandar Biticaca, M. Hum. dan disambung dengan paparan materi oleh Kabag Ops Korbrimob Polri Kombes Pol. Drs. Waris Agono, M.Si.

Dalam paparan, Kombes Pol. Waris Agono juga memberi tahu kepada para wartawan pembagian situasi saat kerusuhan menjadi tiga indikator warna, yakni hijau, kuning, dan merah. Warna hijau diartikan kondisi massa yang masih tertib, sedangkan warna kuning dan merah menandakan situasi massa sudah ricuh dan anarkis sehingga pada saat itu para wartawan diharapkan untuk berada dibelakang personel Brimob.

Selanjutnya personel Brimob memperagakan situasi kerusuhan yang terjadi, mulai dari pasukan huru-hara hingga pasukan anti anarkis. Para wartawan juga melakukan simulasi dengan menaiki kendaraan taktis Brimob seperti AWC (Water Cannon) untuk meliput.

Setelah kegiatan simulasi selesai dilakukan, Pengurus KontraS Feri Kusuma memberikan sambutannya. “seperti simulasi yang dilakukan, polisi harus berhati-hati dalam menangani massa. Jika massa berlaku anarkis, maka polisi boleh melakukan tindakan kepada massa namun masih dengan cara yang progratif”, Ujar Feri.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Amnesty Internasional Usman Hamid juga menyampaikan, “saat melakukan penindakan, polisi juga harus memperhatikan HAM yang ada ”, Tutup Usman.

Related posts