Polisi Sebagai Profesi

Menjadi polisi adalah profesi, bukan sekedar okupasi. Apa maknanya? Okupasi artinya pekerjaan. Seseorang yang “Bekerja normal” dalam suatu bidang pekerjaan akan memiliki jam kerja normal, seperti masuk kantor pukul 08.00 dan pulang pukul 17.00. Okupasi  juga mengenal jabatan dan fungsi tertentu yang spesifikasi.

Sebaliknya, profesi mensyaraktan pengabdian all- round, mencakup semua bidang dan jenis kegiatan yang berkaitan dengan tugas-tugas pokoknya. Menjadi dokter, misalnya adalah profesi. Seorang dokter yang kedatangan pasien sekarat pada tengah malam dirumahnya tidak akan menyuruh pasien itu datang keesokan hari ke tempat prateknya, karena dokter adalah profesi.

Begitu pula halnya dengan menjadi polisi, karena polisi adalah profesi. Seorang Polantas yang tidak sedang berdinas mempergoki pencuri. Polisi itu tidak boleh berpangku tangan dan diam saja.

Ia harus bertindak, meskipun ia bukan anggota resere dan tidak sedang berdinas. Setelah mengkap si pencuri, anggota Polantas itu harus menyerahkannnya ke bagian Reskrim sesuai dengan jenis kejahatan yang dilakukan.

Panggilan nurani, panggilan kemanusian, panggilan jiwa, untuk menolong sesama. Itulah tempat -tempat pengabdian tambahan yang dapat disebut fungsi subsidiaries, atau fungsi tambahan di luar kedinasan. Membantu anak sekolah menyeberang jalan, hingga membantu ibu yang melahirkan dalam situasi darurat. Semuanya adalah panggilan nurani.

Sesuai sumpahnya, insan Bhayangkara anggota Polri memandang, menganut keyakinan, dan menjalani tugas-tugas kepolisian sebagai profesi. Tetapi, sejarah Polri membuktikan, banyak polisi yang menjalani profesinya lebih dari sekedar sebagai profesional. Mereka berbakti kepada negeri dengan sepenuh pengabdian, seringkali bahkan bertindak beyond the call of duties, atau bertindak hingga di luar penggilan tugas.

Bagi insan Bhayangkara, menjadi polisi sebagai profesi adalah pengabdian sepenuh hati, yang lebih luas dari sekedar tugas-tugas penanganan tindak kejahatan dan pelayanan public, sebagaimana telah ditetapkan dalam rumusan dan rincian tugas-tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) Polri. Polisi sebagai profesi telah begitu mandarah daging sehingga di setiap tempat                                                                                                                                                                                                                          dan waktu, serta segala peristiwa kemanusiaan anggota Polri ikut berperan aktif.

 

Polisi Profesi Penuh Tantangan

Profesi polisi mengandung resiko sangat tinggi. Sejak awal, seorang polisi sudah sangat sadar bahwa panggilan tugasnya sangat berat. Mereka tahu, bahwa kapanpun, siang maupun malam sesuatu yang tidak biasa dapat terjadi. Mereka dapat mengalami luka fatal, atau bahkan lebih dari itu menjadi terbunuh.

Meski ada resiko tinggi menjadi korban penyerangan, misalnya polisi juga masih harus mewaspadai resiko terluka atau bahkan tewas karena kecelakaan. Aspek ini kurang dipahami atau mendapatkan perhatian serius. Padahal, sekedar kecelakaan merupakan resiko yang melekat dalam setiap penugasan.

Diseluruh fungsi kepolisian, resiko tugas itu bervariasi, mulai dari yang paling ringan hingga paling berat dan mengenaskan. Pada fungsi lalu lintas (Polantas), resiko merentang mulai dari ancaman polusi udara dan suara, tantangan alam (hujan, panas, debuh) hingga kemungkinan tertabrak kendaraan datau kecelakaan sewaktu berkendara.

Untuk fungsi Reskrim, rentang resiko juga sama saja. Resiko yang paling ringan dapat berupa gangguan kesehatan akibat hidup yang kurang teratur. Pada saat melakukan pengintaian, misalnya, harus melek selama 24 jam, atau bahkan berhari-hari. Makan sewaktu bertugas dilapangan pun seringkali tidak teratur.

Resiko tinggi muncul manakala ada tersangka yang menggunakan senjata tajam tau senjata api. Tetapi, Polantas juga berhadapan dengan resiko terkena tembakan jika berhadapan dengan tersangka yang melarikan diri di jalan raya. Karena itu, Polantas membentuk patroli 88, Satuan khusus Polantas Anti Teror dijalan raya, khususnya di jalan bebas hambatan, atau jalan tol.

Resiko serupa juga dihadapi oleh anggota-anggota Satpolair. Mereka harus berhadapan dengan cuaca dan lingkungan alam yang sering kurang bersahabat. Gangguan paling ringan adalah mabuk laut sewaktu bertugas. Gangguan yang lebih serius  dapat terjadi, seperti kapal tenggelam. Atau ketika harus berhadapan dengan perampok bersenjata.

Lain lagi resiko anggota fungsi intelijen. Sebagai intel, polisi menyamar dam lekaukan penyusupan. Resiko dihajar massa yang disusupi, atau dikerjain oleh penjahat sewaktu penyamaran terbongkar, bisa berakhibat fatal yaitu kematian. Resiko paling ringan, dicibir tetangga dan teman, jika dianggap mengusik kepentingan mereka. Padahal, polisi intel bertugas demi negara.

Resiko paling berat dihadapi anggota Korps Brimob. Sebagai pasukan pamungkas Polri yang khusus menangani kejahatan berintensitas tinggi sungguh penuh resiko hingga mengakibatkan korban jiwa.

Brimob diturunkan dalam tugas kepolisian bila fungsi lainnya tidak mampu untuk menghadapinya. Seperti dalam mengatisi kerusuhan massa. Pasukan Brimob PHH diturunkan untuk menghadapi massa yang anarkis. Tak jarang personel Brimob dalam tugas tersebut mengalmi luka-luka mulai luka ringan hingga berat bahkan  meninggal dunia.

Lagi-lagi resiko berat dihadapi Brimob ketika melaksanakan tugas penjinakan Bom. Terjadinya kejahatan teror menggunakan bom sering terjadi di Indonesia, banyak anggota Brimob yang menjadi korban dalam tugas beresiko tinggi itu.

Resiko berat lainnya ketika Brimob menghadapi pelaku teroris dan saparatis bersenjata. Brimob memang dibentuk dan dilatih untuk menghadapi kelompok bersenjata baik di hutan, gunung maupun laut. Dalam tugas inilah banyak Brimob yang gugur. Pengabdian Brimob terhadap bangsa dan negara tanpa batas, jiwa dan raga didharmabaktikan sepenuhnya demi tugas untuk menjaga stabilitas keamanan dan keutuhan NKRI.

Contoh-contoh tentang resiko tugas dari profesi kepolisian tidak akan cukup dimuat dalam deretan yang panjang. Tetapi, semua itu harus dihadapi, suka atau tidak, selamat atau tewas.***(Ref. Ditengah Dinamika Bangsa)

Related posts